

(inilah.com/Abdul Rauf)
INILAH.COM, Jakarta – Suara mengambang pada Pemilu 2009 diprediksi bakal meningkat jadi 33%. Suara itu bisa melayang ke siapa saja. Inikah yang bisa dimanfaatkan Sri Sultan Hamengkubuwono X dan Yusril Ihza Mahendra?
Swing voter atau suara mengambang diprediksikan bakal meningkat dari tujuh besar partai politik. Dalam survei Lembaga Survei Indonesia (LSI), hanya Partai Demokrat (PD) yang berpotensi mengambil suara mengambang tersebut. Swing voter negatif melanda enam partai sekaligus mengangkat suara mengambang Partai Gerindra menjadi 4%.
Dalam pandangan Direktur Eksekutif Charta Politika, Bima Arya Sugiarto, potensi swing voter menjadi kabar baik bagi partai baru atau menengah untuk merebut suara mengambang tersebut. “Dengan catatan, jika ada deferensiasi dengan partai-partai lainnya,” katanya dalam Dialektika Demokrasi ‘Fenomena Swing Voters, Memunculkan Peluang Capres Alternatif’, Jumat (21/11) di Jakarta.
Sebagai politik gelembung, suara mengambang menjadi bola liar yang dapat diambil oleh siapapun yang mampu menariknya, termasuk bagi capres non mainstream Megawati Soekarnoputri maupun Susilo Bambang Yudhoyono. “Sultan sudah benar dengan membuat skenario muncul dari Republika Nusantara. Namun sebelum pemilu legislatif, dia harus bergerak untuk meraih suara dari partai yang rendah,” ujar Bima.
Dimana pasar swing voter tersebut? Bima menidentifikasi terletak di partai nasionalis dan tengah. Sedangkan di partai berbasis Islam, karena pasar yang kecil, maka swing voter juga kecil. “Swing voter terletak di kelompok nasionalis dan partai tengah,” tegasnya. Meski demikian, ia menegaskan, tokoh alternatif harus muncul makismal pada Maret mendatang atau satu bulan menjelang pemilu.
Menanggapi fenomena swing voter, baik Yusril Ihza Mahendar (Ketua Dewan Syura DPP PBB), Sayuthi Asathri (politisi PAN), maupun Maruarar Sirait (Ketua Litbang DPP PDI Perjungan), meragukan hasil survei yang dilansir LSI tersebut. Mereka mempertanyakan metodologi penelitian maupun kredibilitas hasil survei. “LSI dan Fox (lembaga milik Rizal Mallarangeng) kan sama saja,” cetus Maruarar Sirait.
Terkait dengan fenomena capres alternatif, Maruarar menegaskan, alternatif harus muncul dari internal partai politik, bukan tokoh yang muncul dari luar partai politik. Konsekuensi dari tokoh internal partai untuk menghindari partai politik yang pragmatis dan miskin ideologis.
“Ini untuk menjawab kritik bahwa parpol tidak berideologi dan pragmatis,” kata putra politisi senior Sabam Sirait ini.
Sementara Ketua Tim Sukses Sultan HB X, Sukardi Rinakit menegaskan kemunculan swing voter dikarenakan ketiadaan tokoh serta tidak adanya program dan isu yang menarik sebagai simbol perubahan dari tokoh alternatif. “Nah dalam hal ini, Sultan sebagai lokomotif perubahan,” katanya.
Menurut Cak Kardi, demikian ia sering disapa, keniscayaan bagi Sultan untuk segera menemukan partai politik pengusung dalam Pemilu 2009. Terdapat empat skenario yang akan dilakukan: mendekati PDI Perjuangan, Partai Golkar, partai tengah, serta meniru kesuksesan Partai Demokrat pada 2004 lalu. “Yang pasti Februari tahun depan itu sudah clear,” kata Sukardi yang sementara waktu menanggalkan statusnya sebagai pengamat politik Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) tersebut.
Sementara Sayuti Asthri menegaskan, pemahaman alternatif harus jelas dan tidak hanya skeadar simbol semata. Menurut dia, alternatif selama ini lebih terkesan hanya bergantian antar satu dengan yang lainnya. “Harusnya yang muncul adalah presiden sejati, bukan hanya simbol alternatif saja,” cetusnya.
Capres dari PBB Yustri Ihza Mahendra yang beberapa waktu terakhir ini wira-wiri ke Kejaksaan Agung terkait sebagai saksi kasus korupsi Sistem Adminitrasi Badan Hukum (Sisminbakum) Departemen Hukum dan HAM menegaskan dirinya tetap tak goyah untuk mundur dari pencapresannya dalam Pemilu 2009 mendatang. “Insya Allah, saya tetap mau. Sebagai pemeran Laksamana Cheng Ho, tidak boleh menyerah,” tegasnya.
Terkait dengan swing voter yang minim di partai aliran Islam, Yusril tak mempercayai hal tersebut. Dikotomi partai Islam dan nasionalis, menurut mantan Mensesneg tersebut, kini semakin kabur. “Jadi, tidak relevan lagi membedakan antara partai Islam dan nasionalis,” tegasnya. [I4]
- Pelayanan Publik MA Paling Payah
- Israel Bom Terowongan Rafah
- Mega Wanti-wanti Kampanye Incumbent
- KPU Tunggu Bawaslu Laporkan PKS
- Wah! Yuddy Ingin Dampingi JK
- Imin Belum Dempulan di Iklan PKB
- Bicara Israel, Tifatul Terima Dubes Inggris
- PKB Deklarasikan Capres Februari
- SBY 'Pamer' Telepon TNI di Libanon
- Imin Diojok-ojok Jadi Cawapres
- Miskin Kader, PPP Tak Pede
- Mesir Persulit Relawan, Mubarak Firaun
- Gus Dur: Relawan Palestina Mau Apa?
- Imin Menang Lawan DPW-DPC Beku
- Menggugat Metode Survei Politik