Politik
21/11/2008 - 09:44
Obama Presiden Bayangan RI
Jangan Euforia Berlebihan terhadap Obama (2)
Derek Manangka
Barack Obama
(Ist)

INILAH.COM, Jakarta – Euforia kemenangan Barack Obama pada Pemilu AS melanda Indonesia. Dia digambarkan sebagai presiden yang menyodorkan harapan tinggi. Bahkan, Obama layaknya digambarkan sebagai ‘presiden bayangan’ Indonesia.

Keyakinan bahwa Presiden Obama akan lebih memperhatikan Indonesia semakin bertambah setelah sejumlah media melaporkan berbagai testimoni. Di antaranya yang diberikan Maya Sutoro, adik tiri Baackrack ‘Barry’ Obama.

Maya semasa kecil bersama Barry pernah menetap di Jakarta di akhir tahun 1960-an. Maya yang menikah dengan warga keturunan Singapura, sekarang menetap di AS. Saat Barry Obama sibuk berkampanye untuk merebut tiket ke Gedung Putih, Maya pun ikut sibuk membantu.

Keterlibatan Maya Sutoro dalam kampanye Presiden AS, semakin memperkuat kesan, seolah-olah peran orang Indonesia (Maya) dalam kemenangan Obama, cukup besar. Dari cara pandang dan budaya Indonesia, wajar apabila Obama berutang budi kepada (orang) Indonesia.

Di luar kejadian itu, beberapa media di Tanah Air terjangkit demam Obama. Ada yang melaporkan tentang kondisi sebuah rumah di Jakarta yang dulu pernah didiami Obama dan Maya ketika orang tua mereka masih hidup.

Rumah itu sekarang sudah menjadi milik orang lain. Menurut pemilik atau penghuninya sekarang, rumah kediaman keluarga Obama itu tidak akan pernah dijual, berapapun harga penawaran.

Laporan ini menyiratkan, ada berbagai cara orang Indonesia mengekspresikan harapan dan euforia mereka kepada Obama. Setidak-tidaknya, yang memiliki rumah ini termasuk salah satu warga Indonesia yang ingin memperkuat cerita betapa pentingnya Obama bagi Indonesia.

Obama seolah bukan hanya menjadi Presiden AS, tetapi bagi sementara orang Indonesia dia juga sebagai ‘presiden bayangan’ Indonesia. Kemenangan Obama sebagai calon dari Partai Demokrat AS oleh beberapa politisi diplesetkan sebagai pertanda kemenangan Partai Demokrat (Indonesia) dalam Pemilihan Presiden RI 2009.

Karena Susilo Bambang Yudhoyono didukung Partai Demokrat, seolah-olah SBY sudah terpilih kembali sebagai Presiden RI. Atau Demokrat AS akan mendukung Demokrat Indonesia. Dengan begitu, (seolah-olah) Obama pun pasti akan mendukung Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebuah program reality show di televisi swasta menampilkan beberapa orang Indonesia yang punya ceritera tentang Obama. Ada yang mengaku sebagai sahabat, senior, bahkan guru Obama di salah satu Sekolah Dasar Menteng Jakarta . Banyak klaim yang dikemukakan oleh mereka. Semuanya bernada memuji dan positif.

Entah sampai kapan euforia dan demam Obama di negara ini berlangsung. Sementara dari mulut Obama sendiri belum pernah keluar satu kata pun tentang bagaimana dia memandang semua reaksi orang Indonesia.

Obama memang semakin sibuk dengan persiapannya menjadi orang nomor satu di AS. Sementara di Indonesia, ada orang-orang yang semakin sibuk dan ‘syuuuur’ sendiri, bereuforia atas kemenangan Obama.

Yang mungkin tidak banyak diperhatikan banyak orang, kepedulian Obama terhadap Indonesia sesungguhnya tidak ada. Obama lebih memikirkan kepentingan dan masa depan bangsanya sendiri, terutama setelah krisis keuangan berawal dari AS.

Obama yang sudah jadi salah satu selebritas dunia, sejatinya, mirip seorang gadis cantik. Karena popularitasnya yang mengguncang dunia secara tiba-tiba, membuat semua orang ingin kenal bahkan mengaku kenal dekat dengannya. Padahal sang selebritas tak mengenal para pengaku itu. Jadi pengakuan itu hanya sepihak. Dalam istilah gaul disebut: SKSD Palapa (sok kenal, sok dekat, padahal nggak ada apa-apa).

Gejala ini mulai terlihat dari sikap Obama terhadap Presiden SBY. Presiden RI termasuk salah satu pemimpin dunia yang selain mengucapkan selamat kepada Obama, juga ingin berbicara melalui telepon dengan Presiden terpilih tersebut.

Dilihat dari berbagai sudut dan kepentingan, semestinya Presiden RI termasuk tokoh dunia yang patut dilayani Obama. Apalagi yang diminta SBY hanya berbicara melalui telepon. Perbincangan melalui telepon itu pun sebetulnya hanya sebuah courtesy. Lamanya, maksimal lima menit. Namun, jadi pertanyaan, mengapa untuk percakapan lima menit saja, Obama tidak punya waktu bagi (pemimpin) Indonesia?

Pada 15 Nopember 2008, Presiden SBY berada di Washington, ibukota AS dalam rangka menghadiri KTT G-20. Teorinya saat Presiden RI berada di Washington, Obama bisa menerima telepon tamu dari Jakarta ini. Tokh komunikasi itu tidak terjadi dengan alasan yang tidak jelas.

Inilah yang kemudian memunculkan spekulasi bahwa persepsi sejumlah orang Indonesia tentang Obama sebetulnya meleset. Obama diperhitungkan akan lebih memperhatikan Indonesia, tidak terbukti. Maka sambutan, pujian, klaim orang Indonesia tentang Obama jadilah sebuah klaim sepihak. [Bersambung/I4]

KOMENTAR BERITA