Politik
21/11/2008 - 07:20
PKS: Nge-band Bukan Berarti Tak Islami
Abdullah Mubarok
Ahmad Mabruri
(pks.co.id)

INILAH.COM, Jakarta – Dalam sejumlah kesempatan PKS selalu menggelar acara yang menampilkan grup musik yang populer di kalangan anak muda. Hal ini tentu saja menimbulkan pertanyaan, apakah partai ini telah bergeser menjadi partai yang mulai luntur ideologi Islamnya.

Namun, hal ini dibantah oleh partai yang awalnya didirikan oleh kalangan masjid kampus ini. Menurut Humas PKS Ahmad Mabruri, PKS tetap kepada azas Islam yang dinamis. "Nggak ada yang berubah. Jelas bahwa platform PKS adalah Islam," kata Mabruri kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (20/11).

Di antara grup musik yang ditampilkan PKS dalam acara yang digelarnya adalah Cokelat. Grup ini tampil di acara ‘Silaturahim dan Dialog Antarkeluarga Pahlawan Nasional’, di Jakarta Convention Center, Rabu (19/11). Mereka membawakan sejumlah lagu nasional dan perjuangan dengan aransemen musik rock.

Menurut Mabruri, PKS memilih Cokelat karena dianggap cocok dengan tema acara yang digelar saat itu, yang ingin mempertemukan sejumlah anak dari pahlawan dan tokoh nasional.

Tak cukup itu, di acara ‘Panggung Pemuda Indonesia’, yang digelar di Bandung, Kamis (20/11) malam, PKS juga menampilkan grup musik Nidji. Acara itu bertujuan memberi penghargaan kepada 106 tokoh muda yang dianggap memiliki integritas di bidangnya.

Hal ini tentu saja membuat orang bertanya-tanya, apakah PKS telah mulai bergerak meninggalkan ciri Islamnya yang kental. "Kita tetap pada syariat Islam yang bisa mengikuti perkembangan zaman," tegasnya.

Ia juga membantah bahwa hal itu menandakan kelompok mainstream di partai berlambang dua bulan sabit mengapit sebatang padi itu—yang nota bene merupakan Islam puritan—telah mulai tersingkir dan karena digantikan golongan muda yang lebih moderat.

“Wah nggak benar itu. Nggak ada hal seperti itu di PKS. Lagian juga nggak ada kok kader PKS yang protes soal itu,” ujarnya.

Lalu, apa yang membuat PKS kini terlihat lebih ngepop dalam kampanyenya? Yang jelas, partai ini memang tengah mencoba merangkul pemilih pemula, di antaranya dengan mengampanyekan kepemimpinan tokoh muda. “Toh, bukan berarti hal itu tidak islami,” ujar Mabruri. [nuz]

KOMENTAR BERITA