Ekonomi
21/11/2008 - 11:59
Indosat Melemah Tetap Prospektif
Asteria

(inilah.com/Subekti)

INILAH.COM, Jakarta – Di tengah sulitnya mencari saham potensial untuk dikoleksi, emiten infrastruktur PT Indosat (ISAT) masih menarik dicermati. Hal ini terkait fundamental dan kinerja perseroan yang berpotensi meningkatkan harga saham.

Analis Finan Corpindo Nusa Edwin Sebayang mengatakan, saham ISAT menarik untuk dikoleksi. Hal ini terkait kinerja perseroan yang masih cukup positif. “Saya rekomendasikan beli dengan target harga Rp 7.300 hingga akhir tahun,” katanya, kemarin.

Pada kuartal ketiga 2008, operator telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia ini mencatatkan pendapatan usaha Rp 13,65 triliun, atau naik 14,9% dari periode sama tahun lalu.

Peningkatan dipicu naiknya pendapatan seluler sebesar 11,8% menjadi Rp 10,22 triliun, sektor telepon tetap yang naik 11,7% menjadi Rp 1,30 triliun dan kenaikan pendapatan sektor data tetap (MIDI) sebesar 35,3% menjadi Rp 2,12 triliun.

Adapun pendapatan sebelum beban bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi perusahaan naik 7,4% menjadi Rp 6,72 triliun. Laba bersih perseroan juga naik 1,9% menjadi Rp 1,47 triliun.

ISAT telah meningkatkan belanja modal tahun ini menjadi sebesar US$ 1,4 miliar dari sebelumnya US$ 1,2 miliar. Sebagian besar belanja modal tersebut akan digunakan untuk menambah jaringan dan base transceiver station (BTS) tahun ini.

Namun, anjloknya nilai tukar rupiah dapat berdampak buruk bagi saham ISAT yang cenderung sensitif akan pergerakan mata uang. Pasalnya, kinerja perseroan akan tertekan seiring meningkatnya mismatch mata uang.

Beban operasional dan modal ISAT yang menggunakan dolar akan membengkak. Sementara itu, pendapatan perseroan berdenominasi rupiah. Buruknya outlook ekonomi global juga akan membuat ekonomi Indonesia memburuk dan membuat ekspektasi kinerja perseroan akan melemah.

Dirut Indosat Johnny Swandi Sjam mengatakan, ISAT telah mencairkan seluruh fasilitas pinjaman berjangka waktu lima tahun senilai US$ 450 juta. Rinciannya, US$ 150 juta dicairkan pada September 2008 dan US$ 300 juta pada November 2008.

Menurut Johny, dana pinjaman sebagian telah digunakan untuk pendanaan belanja modal dan keperluan lain, termasuk pelunasan awal obligasi dolar AS yang jatuh tempo pada 2010 dan 2012. Ini terkait perubahan kepemilikan setelah akuisisi atas seluruh saham Indosat milik Singapore Technology Telemedia (STT) oleh Qatar Telecom (QTel).

"Fasilitas pinjaman ini akan mendukung perusahaan mendanai ekspansi belanja modal dalam rangka memenuhi permintaan atas jasa kami yang meningkat. Juga, untuk memenuhi kewajiban kami kepada pemegang obligasi di 2008," ujarnya dalam keterbukaan informasinya kepada otoritas pasar modal.

Sementara kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing mengatakan, saham ISAT patut dicermati. Selain valuasinya yang murah, saham ini sudah terkoreksi cukup dalam. Juga masuknya Qtel bisa menjadi sentimen positif untuk mendorong kinerja perseroan.

“Namun, kepastian tender offer yang belum jelas, dapat merugikan investor,” katanya. Qtel ke depan akan melakukan tender offer untuk menguasai kepemilikan emiten sektor infrastruktur ini maksimal 65%.

Ke depan dikabarkan ISAT akan melepas divisi jaringan tetap karena terkait undang-undang yang menyatakan kepemilikan asing pada layanan ini tetap maksimal 49%.

Saat ini Qtel telah memiliki 40,8% saham ISAT yang dibeli dari Asia Mobile Hld, anak usaha Temasek, senilai Rp 16,56 triliun.

Temasek terpaksa menjual ISAT karena keputusan KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) yang mengharuskan memilih kepemilikannya di Indosat atau Telkomsel terkait kasus monopoli jasa seluler.

Namun belum ada kejelasan harga tender offer. Bapepam LK menginginkan harga penawaran tender di harga Rp 7.388 sementara QTel menginginkan harga lebih murah yakni di kisaran Rp 6.416.

Indosat merupakan penyelenggara telekomunikasi dan informasi yang memberikan layanan jasa seluler dan telekomunikasi atau jasa suara tetap. Indosat juga penyelenggara jasa data tetap (MIDI) bersama dengan anak perusahaan yaitu, Indosat Mega Media (IM2) dan Lintasarta.

Perusahaan juga menyediakan layanan seluler 3,5 G dengan teknologi high speed downlink packet access (HSDPA). Saham Indosat tercatat di Bursa Efek Indonesia dan saham dalam bentuk American Depositary Shares di bursa efek New York.

Pada perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) Jumat (21/11) sesi pagi, saham ISAT ditransaksikan di level harga Rp 4.250 melemah Rp 100 dibandingkan sehari sebelumnya. [E1]

KOMENTAR BERITA