Ekonomi
21/11/2008 - 08:14
Dolar AS Menuju Rp 13 Ribu
Asteria & Natascha

(inilah.com/Abdul Rauf)

INILAH.COM, Jakarta - Setelah menembus rekor terendah dalam 10 tahun terakhir, nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (21/11) masih berpotensi melemah menuju level 12.500 per dolar AS. Intervensi BI diharapkan dapat menahan terpuruknya rupiah lebih jauh.

Head of Research Analyst & Education Monex Investindo Futures Radityo Setyo Wibowo mengatakan, rupiah hari ini masih berpotensi melemah. Selain karena likuiditas valas yang langka di pasar dalam negeri, dolar masih bullish terhadap mata uang Asia kecuali yen.

Hal ini karena ada repatriasi dolar di AS. Investor masih mengkhawatirkan resesi yang berkepanjangan sehingga memilih menyimpan dolar. “Semua pelaku pasar memburu dolar sebagai safe haven,” kata Radityo, di Jakarta, semalam.

Penguatan dolar didukung kemungkinan turunnya mata uang kuat euro dan poundsterling. Hal ini terdorong kemungkinan lebih besar penurunan suku bunga dilakukan bank sentral Inggris (BOE), Eropa (ECB) dan Australia (RBA), daripada bank sentral AS (The Fed). “Ini meningkatkan pamor dolar, investor pun kembali ke dolar AS meskipun suku bunga rendah,” ujarnya.

Sementara pasokan dolar yang langka di dalam negeri dipicu tingginya permintaan mata uang AS untuk kebutuhan ekspor impor menjelang akhir tahun. “BI sebenarnya sudah berupaya melakukan pembatasan permintaan dolar, terutama untuk kebutuhan yang tidak menggunakan underlying transaction atau spekulan,” katanya.

Rupiah pada perdagangan kemarin sempat menyentuh level 12.450 kemudian menguat ke level 11.700, karena intervensi BI. Namun rupiah tidak bisa menguat lebih jauh dan kembali melemah sehingga akhirnya ditutup di level 12.300 per dolar AS.

“Rupiah sudah memecah level tertingginya pada 2001 di level 12.275. Ini berarti terbuka peluang rupiah menuju level 13 ribu per dolar AS,” katanya. Lebih lanjut ia mengatakan, setelah rupiah berhasil menembus level resistan pertama di 12.200 per dolar AS, ada potensi rupiah akan menuju level tes berikutnya di 12.500.

Menurutnya, level ini sebenarnya tidak rasional, mempertimbangkan potensi kenaikan pertumbuhan Indonesia dan neraca yang dalam kondisi baik. “Namun perspektif yang lebih luas mungkin mengatakan lain,” ujarnya.

Adapun rupiah sepanjang November terpantau turun 12%, sedangkan sejak awal tahun, rupiah telah anjlok 25%. Terdepresiasinya rupiah memicu kekhawatiran pelaku valas serta memberi tekanan pada BI untuk mempertahankan mata uang Indonesia dari kemungkinan pelarian modal asing dari Indonesia.

“Banyaknya perusahaan asing yang mengalihkan obligasi pemerintah, mengindikasikan kuatnya aliran dana keluar, meskipun tingkat bunga melambat dibandingkan bulan lalu,” ujarnya.

Menurutnya, pihak otoritas akan sangat sulit mempertahankan rupiah, terutama ketika seluruh mata uang Asia melemah atas dolar AS. Ia pun memperkirakan rupiah terus melemah, meski akan tertahan oleh agresivitas BI di pasar valas. “BI akan intervensi di level 12.275 per dolar AS yang merupakan level resistan rupiah saat ini,” tuturnya.

Analis valas PT Integral Investama Tony Mariano mengatakan hal senada bahwa intervensi BI dengan melepas cadangan devisanya mampu menghambat laju pelemahan rupiah.

"Pemerintah dan BI terus mengawal rupiah sekalipun cadangan devisa makin tergerus. Namun intervensi pasar tak akan kuat menahan krisis global yang makin sulit diatasi," ujarnya.

Tony menambahkan bahwa pergerakan rupiah masih akan sulit kembali ke level 11 ribuan per dolar AS karena aksi buru dolar masih tinggi, terutama terdorong kebutuhan korporasi menjelang tutup tahun.

“Investor makin ragu untuk melepaskan dolar ke pasar sesuai anjuran BI karena melihat bahwa mata uang safe haven ini masih berpotensi untuk melanjutkan rally terhadap rupiah,” ujarnya.

Menteri Perekonomian, Sri Mulyani telah menghimbau kepada para pelaku pasar untuk tidak melakukan aksi tahan dollar yang cenderung akan membuat posisi rupiah menjadi akan semakin terpuruk.

Sri menjelaskan bahwa partisipasi pemulihan ekonomi bukan hanya dilakukan oleh pemerintah saja, namun juga dibutuhkan oleh masyarakat luas termasuk para pelaku pasar.

Guna mengurangi gejolak yang semakin besar pada pergerakan rupiah, BI berencana memberlakukan kebijakan uang ketat guna menekan segala macam bentuk spekulasi. Menurut para pelaku pasar, BI kemungkinan akan mempagu level rupiah terhadap dollar pada posisi 12.250.

Kurs rupiah di pasar spot antar bank, Kamis (20/11) ditutup melemah 110 poin ke posisi 12.300 per dolar AS. Sedangkan rupiah diperdagangkan di level 7.820,16 atas dolar Singapura, di level 14.959,94 atas mata uang gabungan negara Eropa dan di level 7.515,35 atas dolar Australia. [E1]

KOMENTAR BERITA