Ekonomi
21/11/2008 - 08:59
Kejar UMKM Kurangi Risiko
M Dindien Ridhotulloh

(Ist)

INILAH.COM, Jakarta – Perbankan mulai menyiasati pertumbuhan kredit yang aman dari risiko dengan membidik sektor UKM. Strategi ini diterapkan mengingat krisis global diprediksikan masih akan berlangsung lama sehingga perlu nafas panjang untuk menyiasatinya.

PT Bank Internasional Indonesia (BII) misalnya pada 2009 akan memfokuskan pertumbuhan kredit sektor UKM/Komersial karena dinilai lebih tahan terhadap krisis ekonomi. Alokasinya pun cukup besar yakni sekitar 38% dari total outstanding kredit.

"Mudah-mudahan porsi kredit UKM/Komersial bisa mencapai 38%. Per kuartal III 2008, porsi kredit bagi sektor itu sebesar 34,5%," kata Wakil Presiden Direktur BII, Sukatmo Padmosukarso, di Jakarta, kemarin.

Hingga kuartal III 2008 total kredit BII mencapai Rp 38,05 triliun tumbuh sekitar 25% dari periode sama 2007 yang mencapai Rp 30,42 triliun. Dari Rp 38,05 triliun tersebut, sebesar 34,5% atau sekitar Rp 13,31 triliun merupakan kontribusi kredit UKM/Komersial, selebihnya kredit koporasi Rp 9,3 triliun serta konsumer Rp 15,43 triliun.

“Sektor UMK/Komersial selama ini terbukti menjadi sektor yang cukup tahan di saat krisis seperti di 1998. Dari hasil stress test kami meyakini kondisi ketahanan UKM/Komersial tahun ini dan tahun mendatang masih lebih baik lagi," timpal Sukatmo.

Untuk menindaklanjuti penyaluran kredit kepada sektor UKM/Komersial tersebut, BII terus menjalankan linkage programme utamanya dengan 100 Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang hingga kini telah bekerjasama.

Hal yang sama juga dilakukan Bank Artha Graha. Menurut Dirut Bank Artha Graha Andy Kasih, baru-baru ini, pihaknya memiliki perhatian pada peningkatan pengembangan kegiatan usaha yang berfokus pada UMKM.

Karena sektor ini terbukti lebih mampu bertahan terhadap gelombang krisis ekonomi dan sekaligus menjadi penopang utama stabilitas ekonomi nasional di masa yang akan datang.

"Kami menyalurkan dana kepada petani dengan bunga sangat ringan. Pinjaman dan bunganya bisa dikembalikan secara sekaligus pada saat panen, ini akan sangat membantu petani dalam membeli benih dan pupuk," ujar Andy Kasih.

PT Bank Panin juga terus menambah porsi kredit UMKM-nya. Komposisi kredit ke sektor UMKM dan konsumen Bank Panin sudah mencapai 67% dari total kredit yang diberikan, sedangkan sektor korporasi hanya 33%.

Sedangkan kredit yang diberikan selama kuartal III naik 38% menjadi Rp 37,03 triliun. “Strategi dan fokus usaha ke sektor ritel yang dicanangkan Bank Panin sejak beberapa tahun terakhir berhasil mendukung penyebaran risiko kredit, dan memperluas basis nasabah,” papar Wakil Presiden Direktur Bank Panin Roosnaiti Salihin, baru-baru ini.

Pengamat ekonomi Universitas Indonesia Isfandiary Djafar sejak lama optimistis kegiatan UMKM memiliki daya tahan lebih tinggi dalam menghadapi krisis keuangan global.

Geliat UMKM masih tetap besar seperti 10 tahun lalu dan memiliki daya tahun terhadap krisis. Sektor UMKM memiliki kreativitas dalam menjalankan usaha, dan mampu melihat peluang usaha kendati dalam posisi sulit.

Selain itu nilai enterpreneur UMKM dan ragam usaha yang mereka kerjakan sering kali tidak terpikirkan orang lain. "Ini keunikan UMKM dibandingkan dengan usaha lain, ia lebih tangguh dan konsisten," katanya. Dari segi permodalan sektor UMKM paling taat dalam membayar kredit, tidak seperti perusahaan besar.

Namun Ekonom BRI Djoko Retnadi mengeluhkan pertumbuhan kredit untuk UMKM semakin tertinggal dari kredit korporasi sejak 2007. Untuk itu ia berharap kredit perbankan ke depan dapat lebih fokus pada sektor UMKM.

Hal itu karena potensi jumlah UMKM sekitar 49 juta unit usaha, dan baru sekitar 20% yang dibiayai. "Kredit UMKM margin keuntungannya besar, risikonya kecil," papar Djoko.

Menurut data Kementrian Koperasi dan UKM, penyaluran kredit UMKM sejak Januari hingga akhir September 2008 tahun ini telah mencapai Rp 10,91 triliun diberikan kepada 1,33 juta unit usaha. Enam bank yang sudah menyalurkan kredit usaha rakyat adalah BRI, BNI, Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri, BTN dan Bukopin.

Dari jumlah itu, yang kreditnya bermasalah hanya 0,17%. Ini bukti bahwa pelaku UMKM adalah mereka yang jujur dan punya niat mengembalikan. Mereka juga juga minta agar bank tidak memberlakukan bunga kredit usaha rakyat hingga 16% meski suku bunga BI masih tinggi. [E1]

KOMENTAR BERITA